Lombok Tengah – Suasana akrab , semangat dan hangat sangat terasa ketika sejumlah 20 orang perempuan ini berkumpul disalah satu kediaman pasangan warga Desa Bunut Baok bernama Muslim dan ibu komariah di Lombok Tengah pada kamis 11 juni 2026 .
Kegiatan yang di inisiasi oleh 4 orang perempuan desa ini antara lain ibu Komariah,Nurkhotimah,Mutiara, Nurlia ini awalnya hanya ngobrol soal situasi perempuan di Desanya. Sampai bisa sepakat untuk berubah bersama dan keluar dari situasi situasi sulit yang dihadapi.
Sangat jarang perempuan berinisiatif untuk membangun sendiri ruang amannya untuk belajar , kata ibu Nurkhotimah .
Mereka butuh untuk sharing, berbagi informasi dan pengalaman, kata Komariah salah satu inisiator berdirinya kelompok perempuan ini.
Menurutnya , Sebagai perempuan yang selalu disibukkan oleh aktivitas harian di domestik praktis mereka tidak punya waktu dan ruang untuk belajar.
Setelah putus sekolah di usia muda, lalu menikah di usia anak ( lebih kurang 14 tahun), pekerjaan saya hanya di seputar memasak, mencuci , mengurus anak dan suami, tidak ada waktu untuk belajar padahal saya rindu untuk sekolah lagi,” ujar salah seorang anggota “Perempuan Bekesah” yang tidak mau disebut namanya.
Kelompok ini dibentuk oleh dan untuk perempuan.Mereka baru sadar bahwa laki-laki dan perempuan punya hak yang sama untuk belajar dan jadi pintar, tahu informasi dan tahu harus berbuat apa dan bagaimana ketika suatu saat mengalami “ketidakadilan” seperti diskriminasi, kekerasan, beban ganda, multi beban , marginalisasi, subordinasi serta stereotipe yang kesemuanya adalah bentuk dari ketidakadilan.
Setelah terus belajar dari pertemuan demi pertemuan yang merupakan ruang sharing pengalaman dan ilmu, mereka yang sebenarnya berasal dari berbagai latar belakang , namun memiliki komitmen kuat untuk terlepas dari situasi yang tidak adil, dan perlahan akan menjadi lebih baik dengan membangun pemahaman bersama dan membangun ekonominya secara bersama agar lebih mandiri.

Salah satu upaya nyata dengan membangun kemandirian ekonomi melalui usaha menjahit dan produksi tas yang mengombinasikan bahan tenun khas Lombok Tengah. Meskipun usaha ini masih bersifat skala rumahan namun produksinya sudah sampai menembus benua Eropa terutama ke Belanda.
Salah satu pelanggan tas produksi nya sedang menempuh pendidikan disana. Dan ketika libur dan kembali ke Belanda membawa produk tas tenun ke sana, sekaligus mempromosikannya di kalangan akademisi di salah satu kampus di Belanda. Produknya sangat diminati karena dianggap artistik dan tak ada yang membuat di sana. Namun tantangan keberhasilan usaha selalu ada .Du saat permintaan produksi tas ini banyak dan tinggi mereka terkendala bahan dan alat jahit ,padahal sumber daya yang lain seperti tenaga kerja tersedia. Kami berharap ada Perusahaan atau bahkan Pemerintah dapat memperhatikan dan membantu kami dari sisi alat dan tekhnologi untuk produksi yang lebih bagus ,harap ibu ibu dan perempuan anggota kelompok Perempuan Bekesah ini menutup kisahnya
Ruang Belajar “Perempuan Bekesah”










Comment