by

Dari Puncak Bukit 360: Catatan Silaturahmi JMSI Mengawal Wajah Baru Mandalika

DERU MESIN mobil balap memecah hembusan angin pesisir Mandalika sore itu. Suaranya menggema liar dari lintasan Pertamina Mandalika International Circuit. Memantul di dinding bukit-bukit hijau, lalu meluruh bersama aroma asin laut selatan Lombok.

‎Di tengah riuhnya GT World Challenge Asia 2026, kejuaraan kelas dunia yang memompa adrenalin internasional di jantung Nusa Tenggara Barat, sekelompok pengelola media siber berdiri di titik paling eksklusif. Bukit 360.

‎Di tempat inilah, Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) NTB menggelar Silaturahmi dan Media Gathering pada 1–2 Mei 2026. Namun, ini bukan sekadar agenda rutin organisasi.

‎‎Di balik tawa dan cengkerama santai, mengalir diskursus panjang tentang masa depan Mandalika, napas pariwisata, nasib masyarakat lokal, dan bagaimana kawasan ini diretas menjadi etalase kebanggaan Indonesia di mata dunia.

‎Bukit 360 seolah menjadi panggung episentrum bertemunya beragam cerita. Perjalanannya menuju puncaknya saja sudah menyuguhkan pengalaman surealis.

‎Rombongan JMSI disambut patung “Speed” di gerbang utama, ikon garang penyambut peziarah kecepatan. Setelah melewati protokol keamanan yang ketat, laju kendaraan menyusuri aspal mulus hingga membelah terowongan bawah tanah sepanjang seratus meter.

‎Dinding terowongan itu tak dibiarkan bisu. Mural warna-warni menghiasinya. Tepat di samping kanan mobil-mobil GT melesat buas selepas garis start menuju Tikungan 1. Getarannya merambat turun hingga ke dasar tanah, menciptakan sensasi yang menggetarkan dada.

‎Terowongan ini bukan sekadar infrastruktur penghubung. Ia serupa lorong transisi filosofis, menghubungkan masa lalu Lombok yang tenang dengan masa depan Mandalika yang berlari kencang.

‎Pendakian berlanjut melewati empat tikungan tajam berpagar merah-putih. Di puncaknya, tiga struktur baja megah berdiri menantang angin. Itulah Bale Bukit 360. Bangunan dua lantai berbalut kaca ini menghadap ke tiga penjuru mata angin, utara, barat, dan timur. Menawarkan kanvas panorama tanpa batas dari pelataran mezzanine nya.

Baca Juga :  Iwan Slenk: Keterangan Nursalim Tegaskan Tidak Ada Perintah Jual Beli Program di Kasus Dana Siluman

‎Dari titik ini, lintasan aspal Stone Mastic Asphalt tampak utuh mengular, dibingkai hamparan rumput hijau yang dipangkas presisi. Di kejauhan, ombak Samudra Hindia tak henti bergulung, sementara Bukit Seger berdiri angkuh mengawasi.‎

‎Wajar jika titik ini dinobatkan sebagai mahkota Mandalika. “Bahkan yang beli tiket Rp25 juta sekalipun belum tentu bisa menyaksikan event dari tempat ini,” seloroh Manager Stakeholder & Public Relations ITDC, Gresita FY Siahaan, yang langsung disambut decak kagum para pewarta.

‎Bagi sebagian besar anggota JMSI, menjejakkan kaki di Bukit 360 adalah romantisme perdana yang sulit dilupakan. “Ini luar biasa. Kami yang wartawan dari Lombok Tengah saja baru kali ini bisa berkegiatan di sini,” ungkap Lalu Amirullah dan Faisal Haris, tak henti mengarahkan lensa ponsel ke penjuru sirkuit.

Tumbuh Tanpa Meninggalkan Akar

Raungan mesin V8 dari bawah bukit terus bersahutan, menjadi penanda bahwa Mandalika memang sedang memacu giginya. Sangat cepat. Namun, kemegahan ini tak dirakit dalam semalam. Pesisir senyap itu bermanifestasi menjadi Destinasi Pariwisata Super Prioritas melalui proses panjang. Pembenahan infrastruktur, tata kelola kawasan, hingga perombakan kualitas sumber daya manusia.

‎Di sinilah letak pertaruhan Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC). Bagian dari holding BUMN InJourney. Selain menakhodai Mandalika, mereka juga mengembangkan The Nusa Dua Bali dan The Golo Mori. Namun bagi Gresita, membangun fisik adalah satu hal. Membangun jiwa kawasan adalah hal lain yang jauh lebih krusial.

‎“Kami ingin mereka yang terlibat benar-benar orang Lombok. Bukan hanya bekerja, tapi mereka harus merasa memiliki tempat ini,” tegasnya.

‎Kalimat itu merangkum peta jalan Mandalika hari ini. Melesat secara global, namun akarnya tetap menghunjam kuat di bumi Sasak. ITDC sadar betul, keberhasilan destinasi tak lagi sekadar diukur dari tonase beton atau kalkulasi tiket terjual. Keterlibatan warga lokal adalah nyawa dari sebuah keberlanjutan.

Baca Juga :  Trump: Rusia, China diam-diam uji coba senjata nuklir

‎Mulai dari rekrutmen pekerja, pengiriman marshal lokal untuk berlatih ke luar negeri, hingga integrasi ekonomi kreatif terus didorong. Tradisi tak lagi dipinggirkan sebagai sekadar tempelan. Dalam setiap jeda tujuh menit event balap, tari tradisional Lombok justru mengisi panggung utama.

‎Angka berbicara mengamini arah tersebut. Pada pergelaran MotoGP 2025, angka kunjungan menembus 140.324 penonton, meroket 15,7 persen dari edisi sebelumnya. Bagi ITDC, ini bukan sekadar deret statistik, melainkan sinyal kuat bahwa Mandalika telah mengunci posisinya di radar dunia.

‎Ekskalasi ini menetes langsung ke urat nadi ekonomi warga. Lebih dari 600 UMKM kini berdenyut bersama ekosistem sirkuit, membawa kopi, kain tenun, makanan tradisional, hingga kriya lokal naik kelas di hadapan turis mancanegara. Di titik ini, Mandalika menunjukkan wajah aslinya. Ia bukan hanya sirkuit balap, melainkan ruang hidup yang dibangun untuk bertumbuh bersama.

Narasi dan Masa Depan

Dalam orkestrasi besar ini, media memegang tongkat konduktor narasi. Ketua JMSI NTB, H. Boy Mashudi, menegaskan bahwa media siber harus mengambil posisi sebagai mitra strategis untuk mengawal wajah Mandalika.

‎“Silaturahim ini adalah langkah nyata membangun visi bersama. Memajukan pariwisata daerah butuh dukungan informasi yang akurat, sehat, dan profesional. JMSI NTB siap mengawal penuh publikasi internasional KEK Mandalika,” urai Boy. ‎

‎Sebuah penegasan bahwa kota modern tak hanya dibangun oleh semen dan investasi, tetapi juga oleh diksi dan narasi. Tentang bagaimana sebuah daerah diceritakan kepada dunia, dan tentang bagaimana media menjaga kewarasan serta optimisme publik terhadap daerahnya.

‎Gayung bersambut. Dinas Kominfotik NTB, melalui Kabid IKP Safrudin, mengamini pentingnya sinergi ini. Pemerintah menaruh harapan besar agar komunikasi produktif antara ITDC dan insan pers mampu menetaskan ekosistem informasi yang menyehatkan iklim ekonomi dan pariwisata NTB.‎

Baca Juga :  Lombok TV Ajukan Uji Materil PP 46/2021 Tentang Pos, Telekomunikasi Dan Penyiaran

‎Sore makin luruh. Cahaya matahari perlahan lumer, menumpahkan warna jingga pekat di ufuk barat Mandalika. Dari anjungan Bale Bukit 360, siluet perbukitan Seger memotong langit dengan dramatis.

‎Di bawah sana, mobil-mobil GT masih beringas mengiris aspal. Sementara di batas cakrawala, ombak laut selatan tetap bergerak tenang, seolah tak pernah ambil pusing dengan hiruk-pikuk manusia.‎

‎Di titik tertinggi kawasan ini, Mandalika berdiri sebagai monumen pertemuan dua kutub. Modernitas yang berpacu dengan tradisi. Kecepatan yang berdampingan dengan ketenangan. Ambisi global yang merangkul akar lokal.

‎Dan mungkin, itulah wajah mutakhir Lombok hari ini. Sebuah wilayah yang kini tak sekadar dikenal karena keindahan alam masa lalunya, melainkan karena keberaniannya menantang masa depan dengan kecepatan penuh. (*)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *